Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Opini

Pendidikan Karakter Untuk Semua

Pendidikan Karakter Untuk Semua

Sebulan terahir ini diskursus Pendidikan karakter menjadi sangat inten diperbincangkan. Mulai dari kedai kopi sampai restoran pinggir pantai. Mulai dari tukang ojek sampai pejabat dan intelek. Bahkan mulai dari kalangan santri sampai para kiai. Terutama pasca dikeluarkannya permendikbud No. 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang lebih dikenal dengan Ful Day School (FDS). Syahdan, Permendikbud telah memancing pro dan kontra di kalangan masyarakat luas. Konon dasar dari dikeluarkannya permendikbud tersebut sebagai alasan untuk mengatur beban kerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Dengan adanya penolakan dari sebagian masyarakat, akhirnya Presiden RI Ir. Joko Widodo memberikan solusi dengan mengeluarkan Perpres yang mengakomodasi berbagai masukan dari masyarakat, ormas dan pemerhati pendidikan menjadi Perpres Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Bila menengok ke belakang terkait dengan pencapaian peningkatan mutu pendidikan sesuai yang diamanatkan oleh UUD 1945, pemerintah telah memulai dengan berbagai usaha dalam menyusun kurikulum sebagai pijakan pada dunia pendidikan. Kurikulun Pendidikan yang pertama dirilis oleh pemerintah adalah kurikulum tahun 1975 yang kemudian disempurnakan dengan kurikulum 1984. Setelah kurikulum berjalan sekitar sembilan tahun, pemerintah kembali menyeempurnakan dengan diberlakukannya kurikulum 1994 yang terkenal dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Setelah berjalan sekitar lima tahun mengikuti perkembangan dunia, dipandang perlu untuk menyempurnakan kurikulum 1994 itu dengan kurikulum 1999 (Suplemen kurikulum sebelumnya).

Para pemerhati pendidikan termasuk pemangku kebijakan memandang perlu adanya penyempurnaan ulang kurikulum karena tuntutan zaman, sehingga pada tahun 2004, pemerintah resmi mengesahkan berlakunya kurikulum 2004 yang menitik beratkan pada pengolahan bakat anak sesuai kompetensinya. Kurikulum ini dinamai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pada kurikulum ini pemerintah mulai memberi harapan baru bagi peserta didik. Mengapa? Karena pada kurikulum sebelumnya, penekanannya pada aspek kognitif saja, kurikulum sekarang telah bergeser pada tiga aspek yaitu Kognitif (pikiran), Afektif (perasaan), dan Psikomotorik (keterampilan). Jadi pada kurikulum ini pemerintah mulai menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang berkompetensi dalam tiga ranah sesuai dengan bakat dan kompetensi masing-masing peserta didik.

Undang-undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003 Pasal 3, "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab", maka kita dapat memahami bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk insan yang beriman dan berakhlak mulia.

Ungkapan bijak mengatakan bahwa mengajarkan anak-anak kecil ibaratnya seperti menulis di atas batu yang akan berbekas sampai usia tua, sebaliknya mengajarkan pada orang dewasa diibaratkan seperti menulis di atas air yang tidak membekas. Ungkapan tersebut tidak dapat diremehkan begitu saja. Apalagi membentuk karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini dengan serius. Usia dini merupakan masa emas bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar pendidikan mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasa kelak. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik jika dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter baik. Hakekatnya fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal tergantung penanaman karakter sejak mulai dari kandungan hingga pasca kelahiran, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: "Tidak ada anak yang dilahirkan kecuali dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nashrani dan majusi". (H.R. Imam Muslim).

Munculnya kegalauan pendidikan karakter di Indonesia belakangan ini agaknya bisa dimaklumi. Sebab, lulusan pendidikan selama ini belum banyak berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter, -kanjeng Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ada sebagian masyarakat yang menyebut, pendidikan kita telah gagal dalam pembentukan karakter, karena banyak peserta didik lulus sekolah atau sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, tetapi bejat moral. Sejak kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, menghargai, toleran, kebersihan, dan jahatnya kecurangan. Akan tetapi, nilai-nilai kebaikan tersebut baru diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan di atas kertas ujian dan dihafal sebagai bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar dalam kertas soal ujian.

Pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghafal materi soal ujian, dan teknik-teknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria, malu berbuat curang, malu bersikap malas, malu bersikap egois, malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak bisa dibentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius, kontinuitas dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan karakter yang ideal. Selain itu juga karakter dibangun dari lingkungan dan teman. Karena lingkungan dan teman juga sangat mempengaruhi pembinaan karakter anak. Oleh sebab itu pemilihan lingkungan pendidikan dan pergaulan menjadi penting dalam menanamkan pembinaan anak, sebagaimana Rasulullah bersabda : “seseorang mengikuti agama kawannya. Oleh karena itu perhatikan dengan siapa seseorang itu bergaul.”

Di sinilah bisa kita pahami, mengapa ada kesenjangan antara praktik pendidikan dengan karakter peserta didik. Dunia pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.

Kegundahan akan pendidikan karakter, tahun 2013. pemerintah menjawab kurikulum KTSP diganti dengan Kurikulum 2013 (Kurtilas). Kurtilas menjawab pentingnya pendidikan karakter sebagi domain utama. Terbukti dalam penyusunan RPP, Kompetensi Inti (KI) 1 sikap religi dan Kompetensi Inti (KI) 2 Sikap sosial harus diajarkan pada setiap pembelajaran. KI 1 dan KI 2 sebagai bukti pentingnya pendidikan karakter yang harus ditanamkan sejak dini dan menjadi tanggung jawab semua pihak. Kurtilas memang belum sempurna dan perlu adanya pengembangan baik dalam konten atau model dalam pembelajaran termasuk aspek penilain. Namun kekurangan pada Kurtilas, menurut hemat penulis, tidak perlu adanya pergantian kurikulum, cukup dengan penyempurnaan. Awal tahun 2017, LPMP memberikan pelatihan Kurtilas edisi revisi. Penyempurnaannya adalah dalam menyusun RPP memasukan nilai-nilai pembinaan karakter dan literasi dalam proses pembelajaran. Pemerintah melalui Kemendikbud juga telah membuat modul Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai bagian dalam pembelajaran. Pengintegrasian PPK pada setiap materi pembelajaran menjadi penting, dimana nilai-nilai nasionalisme, integritas, gotong royong, dan religius menjadi bagian yang terintegrasi dalam materi pembelajaran, diharapkan adalah nilai-nilai tersebut menjadi kebutuhan dan pembiasan (habbit) peserta didik dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai bagian keluarga, warga sekolah, masyarakat, bangsa dan negara.

Nilai-nilai nasionalisme, gotong royong, integritas dan religius pada anak bangsa di era sekarang sudah mulai tergerus oleh paham lain. Rasa memiliki dan merawat rasa kebangsaan antara yang satu dengan yang lain sudah mulai pudar. Keberagaman ras, suku, budaya dan agama sudah menjadi fitrah bangsa kita. Keberagaman budaya dapat menyatukan dan menguatkan kebagnsaan kita, bukanya dengan kompetensi yang berbeda saling membutuhkan dan dapat menjadi kekuatan bahkan menjadi keindahan bagaikan warna pelangi. Kewajiban anak bangsa adalah merawat, memperkokoh dan memperindah yang sudah diwariskan para pendiri negeri ini dengan mencintai bangsa sendiri dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagaimana KH. Wahab Chasbullah telah memberikan dasar yang fundamental bagi orang beragama dan berbangsa ”khubbul wathan minal iman” (cinta tanah air merupakan bagian dari iman) seseorang, jauh sebelum negara ini merdeka. Gotong royong saling membantu diantara satu dengan yang lainnya merupakan kewajiban individu juga sebagai kewajiban yang diperintahkan oleh agama. Agama Islam memerintahkan kepada umatnya untuk saling membantu satu dengan yang lain, baik sebagai hubungan seagama dan hubungan kemanusian dalam koridor kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Menjalankan agama sesuai kepercayaannya sudah dijamin oleh UUD 45 dan Pancasila. Integritas seseorang juga merupakan karakter yang tidak bisa kita pisahkan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kepribadian seseorang bisa diukur dari integritas pribadinya.

Dengan demikian tujuan dari pembinaan pendidikan karakter ini berorientasi untuk masa depan anak bangsa yang berkarakter purna, namun tidak kalah penting harus dimulai dari dirinya (ibda’ binafsik) entah sebagai pejabat, atau ustad, atau siapapun untuk menjadi orang yang berintegritas tinggi, cerdas, jujur, tidak egois dan gentelmen. Berani memberikan apresiasi dengan jujur dan tidak malu untuk mengatakan karya orang lain “super” tanpa harus mendelete program dengan program baru, dengan mengedapankan egosektoral sebagai pejabat dengan slogan “yang penting baru, - belum ada kajian yang mendalam dengan praktisi pendidikan dan masyarakat. Lebih tragis lagi sampai ikut mengusik dan mencerabut pendidikan karakter yang sudah cukup lama memberikan kontrubusi brilian dalam pendidikan karakter terhadap anak bangsa selama ini. Wallahu álam.

* Penulis adalah Sekretaris Sako Ma’arif NU, Guru PAI dan Budi Pekerti SMAN 11 Jakarta





Related Images

  • Pendidikan Karakter Untuk Semua

Post Rating

Comments

hoowei
# hoowei
Tuesday, October 10, 2017 7:49 PM
Rolex created the initial Submariner within 1953 with this particular design rolex replica view. The actual Rolex Oyster Never ending Submariner might continue not to just turn out to be probably the most iconic fake watches on the planet, but additionally probably the most seriously emulated, preferred, as well as analyzed. The actual tag heuer replica uk had been the very first diver's view through Rolex as well as adopted the heritage which were only available in 1926 whenever rolex replica sale it's very first water-resistant view, the actual Oyster. Rolex truly started it's existence for making plungereplica watches sale along with Panerai. Accurate sufficient, earlier Panerai wrist watches include Rolex actions, as well as for some time within the 1930s, the actual Switzerland as well as Italian language businesses proved helpful collectively upon army plunge replica watches sale depending on Panerai requesting Rolex to assist this create wrist watches for that Italian language Navy blue.

Post Comment

Name (required)

Email (required)

Website

CAPTCHA image
Enter the code shown above: