Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Opini

Pendidikan Karakter Landasan Pembangunan Bangsa

Pendidikan Karakter Landasan Pembangunan Bangsa
A. Pendahuluan
Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah, tetapi bagai-mana menanamkan nilai-nilai budaya yang baik dalam kehidupan, sehingga anak/pe-serta didik memiliki kesadaran, dan pema-haman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebaiikan dalam kehidupan sehari-hari. Perpres No. 78 tahun 2017 Tentang Penguatan Pen-didikan Karakter mempertegas hal terse-but.
Dengan demikian dapat dikatakan bah-wa karakter merupakan sifat alami sese-orang dalam merespon situasi dengan nilai-nilai akhlak yang baik, yang ditunjukkan dalam tindakan nyata melalui perilaku jujur, baik, bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain, dan nilai-nilai karakter mulia lainnya. Dalam konteks pemikiran Islam, karakter berkaitan dengan iman dan ihsan. Hal ini sejalan dengan ungkapan Aristoteles, bahwa karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan diamalkan.
Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfo-kuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Oleh sebab itu, seo-rang yang berperilaku tidak jujur, curang, kejam, dan rakus dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter jelek, sedangkan yang berperilaku baik, jujur, dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter baik/mulia.

B. Definisi Karakter dan Pendidikan Ka¬rak-ter
Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Karakter dapat dianggap sebagai nilai- ilai perilaku manusia yang berhu-bungan dengan Tuhan Yang Maha esa, diri, sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma- norma agama, hukum, tata karma , budaya , adat istiadat, dan estetika. Karakter dalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari –hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak. Warsono dkk. (2010) mengutip Jack Corley dan Thomas Philip (2000) menyatakan : “ Karakter merupakan sikap dan kebiasaan seseorang yang memungkinkan dan mempermudah tindakan moral.”
Menurut KBBI (2009) Karakter meru-pakan sifat- sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan sesorang denan yang lain. Sementara Scerenko (1997) men¬definikan karakter sebagai artibrut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorag, suatu kelompok atau bangsa. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik – baik yang terpatri dalam diri dan terjawantahkan dalam perilaku (Kementrian Pendidikan Nasional, 2010)
Sebagai identitas atau jati diri suatu bangsa, karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadai acuan tata nilai interaksi antar manusia. Secara universal karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian (peace), menghargai (respect), kerja sama (cooperation), kebebasan (freedom), keba¬hagiaan (happiness), kejujuran (honesty), kerendahan hati (humility), kasing sayang (love), tanggung jawab (responsibility), kesederhanaan (simplicity), toleransi (tole¬rance), dan persatuan (unity).Karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas (ketu¬ru¬nan) maupun pengaruh lingkungan, yang membedakan dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari – hari.
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesu-atu yang ingin dicapai oleh segenap kegi-atan pendidikan.
Pendidikan Karakter adalah upaya sadar dan sungguh – sungguh dari seseorang guru untuk mengajarkan nilai –nilai kepada siswanya (Winton,2010). Pendidikan ka-rakter telah menjadi sebuah pergerakan pendidikan yang mendukung pengem-bangan sosial, pengembangan emosional, dan pengembangan etik para siswa. Pendidikan Karakter juga dapat didefinikan sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter yang mulia (good character) dari peserta didik dengan mempraktikan dan mengajarkan nilai- nilai moral dan pengam-bilan keputusan yang beradab dalam hu-bungan dengan sesama manusia maupun dalam hubungannya denga Tuhannya. Ke-mu¬dian definisi tersebut dikembngkan oleh Departemeb Pendidikan Amerika Serikat “Pendidikan karakter mengajarkan kebi¬asaan berpikir dan kebiasaan berbuat yang dapat membantu orang – orang hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, sahabta, tetangga, masyarakat, dan bangsa.”
Menurut Scenreko (1997) pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh–sungguh dengan cara mana ciri kepribadian positif dikembangkan, dido¬rong,dan diberdayakan melalui keteladana, kajian (sejarah dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta praktik emulasu (usa¬ha yang maksiman untuk mewujudkan hikmah dari apa- apa yang diamati dan dipelajari). Selanjunya Anne Lockwood memerinci ada tiga proposisi sentral dalam pendidikan karakter. “Pertama, bahwa tu¬juan pendidikan morla dapat dikejar, tidak semata – mata membiarkannya sekedar sebagai kurikulum tersembunyi yang tidak terkontrol , dan bahwa tujuan pendidikan karakter telah memiliki dukungan yang nyata dari masyarakat dan telah menjadi konsensus bersama. Kedua, bahwa tujuan – tujuan behavioral tersebut adalah bagian dari pendidikan karakter. Ketiga, perilaku antisosial sebagai bagian kehidupan anak –anak adalah sebagai hasil dari ketidak-hadiran nilai- nilai dalam pendidikan.”
Jadi, pedidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan watak, pendidikan moral, yang bertujuan mengem¬bangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik – buruk, me¬me¬lihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari – hari dengan sepenuh hati. Pendidikan karakter dapat pula dimaknai sebagai upaya yang terencara untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai- nilai sehingga peserta didik berpe¬rilaku sebagi insan kamil.
Makna pendidikan sebagi suatu sistem penanaman nilai – nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai- nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, ling¬ku¬ngan, ma¬u¬pun kebang¬sa¬an sehingga men¬¬jadi manusia insan ka¬mil. Penanaman ni¬lai kepada warga sekolah maknanya bahwa pendidikan karakter baru akan efektif jika tidak hanya siswa, tetapi juga para guru, kepala sekolah dan tenaga non-pendi¬dik di sekolah se¬mu¬a harus terlibat dalam pendi-dikan ka¬rakter.

C. Landasan Pendidikan Karakter
Dalam pengertisn yang lebih luas pendidikan karakter dapat dimaknai seba-gai pendidikan nilai, pendidikan moral, pendidikan budi pekerti dan pendidikan watak yang bertujuan untuk mengem-bangkan kemampuan peserta didik untuk mem¬berikan keputusan baik-buruk, meme¬lihara yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter memiliki empat prinsip (Koesoema,2006) yaitu: 1) kete¬raturan setiap tindakan dan diukur berdasarkan hierarki nilai. 2) koherensi yang memberikam keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip. 3) otonomi. 4) keteguhandan kesetiaan.
Mengapa perlu melakukan pendidikan karakter? Sekurang-kurangnya memiliki empat alasan utama, yakni historis, yuridis, sosiologis, dan pedagogis.

1. Historis
Alasan historis perlunya pendidikan karakter terkait dengan perjalanan saejarah bangsa sejak perlawanan yang bersifat kedaerahan, kebangkitan nasional, revolusi fisik merebut kemerdekaan, hingga mem¬pertahankan kemerdekaan. Pada setiap perlawanan tersebut terdapat etos per¬juangan yang patut di teladanin seperti jiwa sepi ing pamrih rame ing gawe. Mentalitas tersebut dimanifestasikan oleh perjuangan tanpa pamrih, tidak mengharapkan imbalan jasa, yang penting Indonesia bebas dari penjajah yang telah menghisap darah Ibu Pertiwi. Kuntul baris, rawe-rawe rantas malang-malang putung adalah mentalitas bekerja sama yang kokoh antara rakyat dengan pimpinan sehingga daya juang pada waktu itu sangat dasyat. Oleh karena itu etos perjuangan tersebut harus di ajarkan kepada generasi muda sekarang melalui pendidikan karakter ini.

2. Yuridis
Alasan yuridis adalah alasan berda-sarkan undang-undang . Misalnya menurut pasal 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional di tegaskan bahwa Pen¬didikan Nasional berfungsi untuk me-ngembangkan kemampuan serta mem-bentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, berfungsi untuk me-ngembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan deskripsi tersebut pendidikan karakter sangat perlu untuk mewu¬jud-kannya,agar sesuai UU No 20 tahun 2003.

3. Sosiologis
Alasan sosiologis adalah alasan yang timbul dari adanya kenyataan di ma¬sya-rakat seperti merebaknya berbagai perilaku buruk yang sangat jauh dari kehidupan berkarakter yang melanda Indonesia. Kon¬disi demikian mendorong pemerintah untuk melakukan penguatan kembali proses pen¬didikan hingga menyentuh aspek pengem¬bangn karakter, utamanya di persekolahan dan perguruan tinggi.

4. Pedagogis
Alasan pedagogis adalah alasan perlunya pendidikan karakter dilakukan untuk mendidik warganegara. Secara psiko¬pedagogis anak adalah seorang warga nega¬ra hipotetik. Artinya warganegara yang be¬lum jadi yang harus dididik menjadi sese¬orang yang sadar akan kewajiban dan hak-haknya sebagai insane tuhan, insane sosial dan politik. Dengan demikian hidup ber¬karakter itu tidak lahir dengan sendirinya, melainkan harus dibina melalui proses pendidikan. Dengan demikianlah pendi¬di¬kan karakter itu diperlukan untuk membina peserta didik agar hidup berkarakter sesuai dengan nilai-nilai dan norma sesuai dengan fitrah manusia. Ada tiga tujuan pendidikan karakter yakni pribadi yang berkarakter, sekolahatau kampus yang berkarakter dan masyarakat yang berkarakter (Licko¬na, 2004).

Pendidikan Karakter dalam Konteks Makro
Konteks makro bersifat nasional yang mencakup keseluruhan konteks perenca-naan dan implementasi mengembangkan karakter yang melibatkan seluruh pemang-ku kepentingan pendidikan nasional. Secara makro pengembangan karakter dapat diba¬gi dalam tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil. pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat ka¬rak¬ter yang digali, dikristalisasikan, dan di¬rumuskan dengan menggunakan berbagai sumber antara lain pertimbangan: 1) filo¬sofis - agama, pancasila, UUD 1945 dan UU No 20 tahun 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya. 2) per¬timbangan teoritis - teori tentang otak, psikologis, pendidikan, nilai dan moral dan sosial-kultural. 3) pertimbangn empiris be¬ru¬pa pengalaman dan praktek terbaik (best practices) dari antara lain tokoh-tokoh satuan pendidikan unggulan, pesantren dll. Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri individu peserta didik. Proses ini dilak¬sa-nakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tida pilar pendidikan yakni dalam satuan pendidikan, keluarga, dan masya¬rakat. Dalam masing-masing pilar pendi¬dikan aka nada dua jenis pengalaman belajar (learning experiences) yang di bagi dalam dua pendekatan yaitu intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan karakterdengan me¬ne¬rapkan kegiatan yang berstruktur. Agar dalam proses pembelajaran tersebut ber¬hasil guru sebagai sosok anutan yang sa¬ngat penting dan menentukan. Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikaanya, dirumahnya, di dalam masyarakatnya membiasakan diri berprilaku sesuai nilai. Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang disengaja dirancang dan dilaksanakan untuk men-deteksi aktualisasi karakter dalam diri pe-serta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik.

D. Ciri Dasar Pendidikan Karakter
Menurut Foerster, seorang pencetus pen¬didikan dan pedadog Jerman, menya-takan bahwa ada empat ciri dasar pendidikan karakter, yakni sebagai berikut:
1. Keteraturan Interior, di mana setiap tindakan diukur dengan hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normative setiap tindakan.
2. Koherensi, yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mungkin terombang-ambing pada situasi baru aau takut resiko. Koherensi adalah dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi akan meruntuhkan krediilitas seseorang.
3. Otonomi. Seseorang menginternali¬sasi-kan aturan dari luar sampai menjadi nilai bagi pribadi, lewat penilaian atas kepu-tusan pribadi tanpa terpengaruh pihak lain.
4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Sedangkan kesetiaan adalah dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini, me-mungkinkan manusia melewati tahap indi-vidualitas menuju personalitas. Karakter ini¬lah yang menetukan performa pribadi da¬lam setiap tindakannya.

E. Pendekatan Pendidikan Karakter
a. Pendekatan Penanaman Nilai
Pendekatan Penanaman Nilai (incul¬ca¬ti-on approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Menurut pendekatan ini, tujuan pendidikan nilai ada¬lah diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa dan berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan (Superka, et al. 1976). Menurut pendekatan ini, metode yang digunakan dalam proses pembelajaran antara lain keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.
Pendekatan ini merupakan pendekatan tradisional. Dipandang indoktrinatif, tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan demokrasi (Banks, 1985; Windmiller, 1976). Pendekatan ini dinilai mengabaikan hak anak untuk memilih nilainya sendiri secara bebas. Dalam perkembangannya, pendeka¬tan ini tidak sesuai dengan alam pendidikan Barat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan individu. Namun, disadari atau tidak pendidikan ini digunakan secara meluas dalam berbagai masyatakay, teru¬tama dalam penanaman nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya.

b. Pendekatan Perkembangan Kognitif
Karakteristiknya memberikan pene¬ka-nan pada aspek kognitif dan perkem-bangannya. Pendekatan ini mendorong sis-wa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat kepu-tusan-keputusan moral. Menurut pende-katan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989).
Tujuan utama pendekatan ini:
1. Membantu siswa dalam membuat per-timbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi.
2. Mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral.
Menurut pendekatan ini, proses penga-jaran nilai didasarkan pada dilema moral, dengan metode diskusi kelompok. Diskusi dilaksanakan dengan memberi perhatian pada tiga kondisi penting. Pertama, men-dorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. Kedua, adanya dilema, baik dilema hipotekal maupun faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan seharian. Ketiga, suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik (Superka, et. Al. 1976; Banks, 1985).
Pada dasar¬nya, pendeka¬tan ini mudah digunakan da¬lam proses pen¬didikan di sekolah karena memberikan pe¬nekanan pa¬da aspek per¬kembangan ke¬mampuan ber¬pikir. Selain itu, karena pendekatan ini memberikan per¬hatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam masyarkat, pendekatan ini menjadi menarik. Dalam praktiknya, teori ini menghidupkan suatu kelas.
Kelemahan pendekatan kognitif, me-nam¬pilkan bias budaya Barat. Dalam proses pengajaran, pendekatan ini juga tidak mementingkan kriteria benar salah untuk suatu perbuatan. Yang dipentingkan adalah alasan yang dikemukakan atau pertim-bangan moralnya.
c. Pendekatan Analisis Nilai
Pendekatan Analisis Nilai memberikan penekanan pada perkembangan kemam-puan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhu-bungan dengan nilai-nilai sosial. Tujuan utama pendidikan moral menurut pende-katan ini , yaitu pertama membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam meng-analisis masalah-masalah sosial, yang ber-hubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua, membantu siswa untuk menggu-nakan proses berpikir rasional dan analitik, dalam menghubung-hubungkan dan meru-muskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Selanjutnya, metoda-metoda pengajaran yang sering digunakan adalah pembelajaran secara individu atau kelompok tentang masalah-masalah sosial yang memuat nilai moral, penyelidikan kepustakaan, penye¬lidikan lapangan, dan diskusi kelas berda¬sarkan kepada pemikiran rasional.
Menurut pendekatan ini, ada enam langkah analisis nilai yang penting dan perlu diperhatikan dalam proses pendidikan karakter, yaitu (1) mengidentifikasi dan menjelaskan nilai yang terkait. (2) me¬ngumpulkan fakta yang berhubungan. (3). Menguji kebenaran fakta yang bekaitan. (4). Menjelaskan kaitan antara fakta yang bersangkutan. (5) merumuskan keputusan moral sementara. (6). Menguji prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan.
Kekuatan pendekatan ini, antara lain, mudah diaplikasikan dalam ruang kelas ka-re¬na penekanannya pada pengembangan kemampuan kognitif. Pendekatan ini juga menawarkan langkah-langkah yang siste-matis dalam pelaksanaan proses pembe-lajaran moral. Kelemahannya, pendekatan ini hanya berdasarkan kepada prosedur analisis nilai yang ditawarkan serta tujuan dan metoda pengajaran yang digunakan. Pendekatan ini sangat menekankan aspek kognitif, dan sebaliknya mengabaikan aspek afektif dan perilaku. Pendekatan ini sangat berat memberi penekanan pada proses, kurang mementingkan isi nilai.

d. Pendekatan klarifikasi nilai
Memberi penekanan pada usaha mem-bantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mere-ka sendiri. Menurut pendekatan ini, tujuan pendekatan karakter ada tiga, pertama, membantu siswa agar menyadari dan me-ng¬identifikasikan nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain. Kedua, mem-bantu siswa agar mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri. Ketiga, membantu siswa agar mampu me-nggunakan secara bersama-sama kemam-puan berpikir rasional dan kesadaran emo-sional, mampu memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri. Dalam proses pengajarank berdasarkan kepada nilainya sendirinya, pendekatan ini menggunakan metode dialog, menulis, dis-kusi dalam kelompok besar atau kecil, dan lain-lain.
Pendekatan ini memberi penekanan pa¬da nilai yang sesungguhnya dimiliki oleh seseorang. Guru bukan sebagai pengajar nilai, melainkan sebagai role model dan pendorong. Peranan guru adalah mendo-rong siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk mengembangkan kete-rampilan siswa dalam melakukan proses menilai.
Kekuatan pendekatan ini terutama mem¬berikan penghargaan yang tinggi kepada siswa sebagai individu yang mem-punyai hak untuk memilih, menghargai, dan bertindak berdasarkan kepada nilainya sendiri (Banks, 1985). Metode penga¬ja-rannya juga sangat fleksibel, selama dipandang sesuai dengan rumusan proses menilai dan empat garis panduan yang ditentukan.

e. Pendekatan pembelajaran berbuat
Menekankan pada usaha memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara per¬seorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Tujuan utama pendidikan moral berdasarkan pendekatan ini, pertama, memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan niali-nilai me¬reka sendiri. Kedua, mendorong siswa un¬tuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam per-gaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat yang harus mengambil bagian dalam suatu proses de¬mokrasi.
Metode pendekatan ini menggunakan projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan prak-tek keterampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama.
Kekuatan pendekatan ini pada program-program yang disediakan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk ber¬par¬tisipasi secara aktif dalam kehidupan demo¬krasi. Kelemahan pendekatan ini sulit di¬prak¬tikkan. Sebagian dari program-program yang dikembangkan dapat digunakan, na¬mun secara keseluruhan sukar dilak¬sa¬nakan.

F. Strategi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan secara efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikannya, da-na sekolah yang cukup untuk menggaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana prasarana yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran, serta dukungan yang tinggi dari masyarakat (orang tua). Harus diakui bahwa sejak zaman orde lama, orde baru, orde reformasi sampai sekarang pendidikan nasional belum ditangani oleh ahliya secara profesional. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus melakukan reformasi total terhadap mana¬jemen dan sistem pendidikan nasional; jika tidak kita tinggal menunggu kehancuran bangsa dan negara ini; yang berbagai indi¬katornya sudah dapat dirasakan sekarang.
Berkaitan dengan kondisi sekolah, di Indonesia pada saat ini sangat bervariasi dilihat dari segi kualitas, lokasi sekolah, dan partisipasi masyarakat (orangtua). Kuali¬fi-kasi sekolah bervariasi dari sekolah yang sangat maju sampai sekolah yang sangat ketinggalan, sedangkan lokasi sekolah ber-va¬riasi dari sekolah yang terletak di perko-taan sampai sekolah yang letaknya di dae-rah terpencil. Demikian pula partisipasi orang tua, bervariasi dari yang par¬ti¬si¬pa-sinya tinggi sampai yang kurang bahkan tidak berpartisipasi sama sekali. Kondisi ter¬se¬but tampaknya, akan menjadi perma-salahan yang rumit dan harus diprioritaskan penanganannya. Oleh karena itu, agar pendidikan karakter dapat diterangkan se-ca¬ra optimal, baik sekarang maupun di ma-sa yang akan datang, perlu adanya penge-lompokkan sekolah berdasarkan tingkat kemampuan manajemen masing-masing. Pe¬nge¬lompokkan ini dimaksudkan untuk mempermudah pihak-pihak terkait dalam memberikan dukungan.
1. Pengelompokkan sekolah
2. Penahapan yang tepat
3. Pengembangan perangkat pendukung
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melak¬sa¬nakan program bimbingan, pengajaran, dan atau pelatihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan poten¬sinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosi¬onal, sosial, maupun fisik-motoriknya. Hurlock (1986 : 322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak, baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun berperilaku. Sekolah berperan sebagai substi¬tusi keluarga dan guru sebagai substi-tusi orang tua. Beberapa faktor lingkungan sekolah yang berkonstribusi positif terha-dap perkembangan siswa atau anak dian-taranya :
1. Kejelasan visi, misi, dan tujuan yang akan dicapai
2. Pengelolaan atau manajerial yang pro-fesional
3. Para personel sekolah yang memiliki ko-mitmen yang tinggi terhadap visi, misi, dan tujuan sekolah
4. Para personel sekolah memiliki semangat kerja yang tinggi, merasa senang, disiplin dan rasa tanggung jawab
5. Para guru memiliki kemampuan aka-demik dan profesional yang memadai
6. Sikap dan perlakuan guru terhadap siswa bersifat positif : bersikap ramah dan res¬pek terhadap siswa, memberikan ke¬sem¬patan kepada siswa untuk ber¬pen¬dapat atau bertanya
7. Para guru menampilkan perannya seba-gai guru dalam cara-cara yang selaras dengan harapa siswa, begitupun siswa menampilkan peranannya sebagai siswa dalam cara-cara yang selaras dengan harapan guru
8. Tersedianya sarana prasarana yang me-madai
9. Suasana hubungan sosio-emosional antar pim¬pinan sekolah, guru-guru, siswa, petugas administrasi, dan orangtua siswa berlangsung secara harmonis
10.Para personel sekolah merasa nyaman dalam bekerja karena terpenuhi b kesejahteraan hidupnnya.
Dalam salah satu hasil penelitian me-ngenai pendidikan, Michael Russel (Sigel-men & Shaffer, 1995 : 426) mengemukakan tentang definisi sekolah yang efektif, yaitu yang mengembangkan prestasi akademik, keterampilan sosial, sopan santun, sikap positif terhadap belajar, abseinteism yang ren¬dah, melatih keterampilan sebagai bekal bagi siswa untuk dapat bekerja. Seiring dengan program pemerintah mengenai pendidikan karakter, maka sekolah memiliki tanggung jawab untuk merealisasikannya melalui pengintegrasian pendidikan karak¬ter tersebut ke dalam program pendidikan secara keseluruhan. Sebagai lembaga pen¬didikan, sekolah diharapkan menjadi “Cen¬tre of nation character building”, pusat pembangunan karakter bangsa. Pendidikan karakter ini bukan mata pelajaran, tetapi nilai-nilai karakter itu harus ditanamkan kepada para peserta didik melalui proses pembelajaran dikelas maupun diluar kelas.
Kemendiknas (2010) menjelaskan bahwa karakter adalah “watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan (vir¬tues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain”. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan bangsa. Kemendiknas (2010) menyatakan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini:
1. Agama: Mayarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya.
2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila.
3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu.
4. Tujuan pendidikan nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan diberbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasi¬onal memuat berbagai nilai kema¬nu¬siaan yang harus dimiliki warga negara Indo¬nesia.
Berdasarkan keempat sumber nilai, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut:
1. Religius: Sikap dan perilaku yang patuh dalam me¬laksanakan a¬jaran agama yang dianutnya, toleran terha¬dap pelaksa-na¬an ibadah aga¬ma lain, dan hi¬dup rukun de¬ngan pemeluk agama lain.
2. Jujur: Pe¬rilaku yang di¬da¬sarkan pada upaya menja¬di¬kan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perka-taan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Kreatif: Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
4. Mandiri: Sikap perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
5. Demokratis: Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
6. Rasa Ingin Tahu: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
7. Semangat Kebangsaan: Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menem-patkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
8. Cinta Tanah Air: Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
9. Menghargai Prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta meng-hormati keberhasilan orang lain.
10. Bersahabat/Komunikatif: Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbi-cara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
11. Cinta Damai: Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas keha¬di-rannya.
12. Gemar Membaca: Kebiasaan menye¬diakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinnya.
13. Peduli Lingkungan: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam dise¬ki-tarnya, dan mengembangkan uoaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
14. Peduli Sosial: Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membu-tuhkan.
15. Tanggung Jawab: Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia laku-kan, terhadap diri sendiri, masyarakat, ling-kungan (alam sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

G. Implementasi Pendidikan Karakter
Pada umumnya pendidikan karakter me¬nekankan pada keteladanan , penciptaan lingkungan, dan pembiasaan; melalui ber¬bagai tugas keilmuan dan kegiatan kondu¬sif. Dengan demikian apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dikerjakan oleh pesetra didik dapat membentuk karakter mereka. Selain menjadikan keteladanan dan pembiasaan sebagai metode pendi¬dikan utama , penciptaan iklim dan budaya serta lingkungan yang kondusif juga sangat penting , dan turut mrmbentuk karakter peserta didik.
Penciptaan lingkungan yang kondusif dapat dilakukan melalui berbagai variasi metode sebagai berikut:
1) Penguasaan
2) Pembiasaan
3) Pelatihan
4) Pembelajaran
5) Pengarahan
6) Dan keteladanan
Berbagai metode tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pem-bentukan karakter peserta didik, pembe-rian tugas di sertai pemahaman akan dasar dasar filosofisnya, sehingga peserta didik akan mengerjakan berbagai tugas dengan kesadaran dan pemahaman, kepedulian dan komitmen yang tinggi. Setiap kegiatan mengandung unsur unsur pendidikan, seba¬gai contoh dalam kegiatan kepramukaan , terdapat pendidikan kesederhanaan, ke¬man¬dirian. Kesetiakawanan, dan kebersa¬maan, kecintaan pada lingkungan dan ke-pemimpinan dalam kegiatan olahraga terdapat pendidikan kesehatan jasmani, penanaman sportivitas, kerja sama (tem work) dan kegigihan dalam berusaha.

H. Peranan Penting Pendidikan Karakter Bagi Pembangunan Bangsa

Modal orang untuk menjadi sukses tak lepas dari peran penting suatu karakter yang luar biasa. Karakter menjadi suatu hal yang berpengaruh pula dimana sesorang tersebut berada. Pembentukan karakter dapat dibangun pula melalui sarana Pen-didikan.
Negara Indonesia pun sejak masa kemerdekaan sudah memikirkan mengenai Pendidikan Karakter. Para pendiri bangsa menyadari paling tidak ada tiga tantangan besar yang harus dihadapi. Pertama, adalah mendirikan bangsa yang bersatu dan berdaulat, kedua, adalah membangun bangsa, dan ketiga adalah membangun karakter.
Menurut bapak pendiri bangsa Presiden pertama Republik Indonesia menegaskan : “Bangsa ini harus dibangun dengan menda-hulukan pembangunan karakter, karena pembangunan karakter inilah yang akan mem¬buat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat.
Di Indonesia Pelaksanaan Pendidikan karakter dirasakan mendesak dan amat perlu pengembangannya bila mengingat makin meningkatnya tawuran antar pelajar, serta bentuk- bentuk kenakalan remaja lainya terutama di kota-kota besar, peme¬rasan/kekerasan, kecenderungan dominasi senior terhadap yunior, penggunaan narko¬ba dan lain-lain.
Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional dalam publikasinya berjudul Pedo¬man Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Dalam publikasi Pusat Kurikulum dinya¬takan bahwa pendidikan karakter berfungsi untuk :
1. Mengembangkan potensi dasar agar ber¬hati baik, berpikiran baik, dan berpe-ri¬laku baik,
2. Memperkuat dan membangun perilaku baik yang multikultur,
3. Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Dalam kaitan itu telah diidentifikasi se-jumlah nilai pembentuk karakter yang me-rupakan hasil kajian empiris Pusat Kuri-kulum, nilai-nilai bersumber dari Agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional tersebut adalah :
1. Religius,
2. Jujur,
3. Toleransi,
4. Disiplin,
5. Kerja Keras,
6. Kreatif,
7. Mandiri,
8. Demokratis,
9. Rasa ingin tahu,
10. Semangat Kebangsaan,
11. Cinta tanah air,
12. Menghargai Prestasi,
13. Bersahabat/komunikatif,
14. Cinta damai
15. Gemar membaca,
16. Peduli lingkungan,
17. Peduli Sosial,
18. Tanggung jawab.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan karakter merupakan pendidi¬kan yang sangat penting untuk membina kepribadian peserta didik. Karakter sangat berpengaruh terhadap kelakuan seseorang dimanapun dia berada. Oleh sebab itu, kesuksesan seseorang tak lepas dari modal pendidikan karakter yang dimilikinya. Se¬per¬tinya yang diungkapkan oleh Presiden Soekarno yang intinya adalah pemba¬ngunan karakter harus diutamakan karena memiliki manfaat untuk bangsa menjadi besar, maju dan jaya serta bermartabat.
Pendiri negara telah memberikan pe-nekanan pada pembangunan karakter bangsa, dengan arah dan landasan yang jelas, yakni Pancasila. Hal ini sesuai dengan fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Oleh sebab itu, pemerintah berupaya memfokuskan pembangunan karakter bangsa kepada para peserta didik, sebagai generasi penerus bangsa. Kemu-dian oleh pemerintah penanaman pemba-ngunan karakter bangsa dimasukkan ke dalam kurikulum mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

B. Saran
Mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi harus selalu diajarkan mengenai pendidikan karakter. Setiap pendidik hen-daknya memiliki kompetensi untuk mendi-dik perihal pendidikan karakter. Proses mendidik dilakukan secara bertahap se-hingga peserta didik bisa menyesuaikan ba¬han ajar menurut jenjang pendidikannya. Dengan begitu diharapkan akan terlahir generasi-generasi emas bangsa Indonesia yang terbekali dengan karakter-karakter baik agar berguna untuk bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, Dasim. (2012). Perancang Pembelajaran Berbasis Karakter. Bandung: Widya Aksara Press.
Lickona, Thomas. (2013). Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusamedia.
Mulyasa. (2012). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: PT.Bumi Aksara.
Saptono. (2011). Dimensi-Dimensi Pendidikan Karakter, Wawasan, Strategi, dan Langkah Praktis. Jakarta: Erlangga.
Samani, Muchlas & Hariyanto. (2012). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Muslich, Masnur. (2011). Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Tirtarahardja, Umar. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.



Related Images

  • Pendidikan Karakter Landasan Pembangunan Bangsa

Post Rating

Comments

There are currently no comments, be the first to post one!

Post Comment

Name (required)

Email (required)

Website

CAPTCHA image
Enter the code shown above: