Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Profil Sekolah/Madrasah/Pesantren

Pendidikan Nasionalis-Agamais Sekolah Nasima, Alternatif Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan Nahdlatul Ulama

Pendidikan Nasionalis-Agamais Sekolah Nasima, Alternatif Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan Nahdlatul Ulama
Prolog
Manusia secara kodrati adalah makhluk Tuhan yang dianugerahi kesempurnaan lahir batin. Segala potensi lahir batinnya bertumbuh kembang guna mencapai tataran mampu menjalin keselarasan dan menebar kemanfaatan bagi kehidupan. Amanah-Nya, manusia sesungguhnya adalah pemimpin di muka bumi ini. Oleh karena itu, dengan segala kemampuan dan perannya setiap manusia harus selaras dan bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang-orang di sekitarnya, bangsanya, dan bangsa lain, termasuk alam semesta. Ki Hajar Dewantara mengistilahkan manusia ideal tersebut sebagai manusia yang merdeka. Tak ada yang membelenggu kebebasannya dalam bertumbuh kembang, berpikir, berasa, dan berbuat, kecuali ikatan berupa kodrat Illahi, nilai-nilai kebenaran hakiki, serta hak dan kewajiban untuk bermanfaat bagi kehidupan. Mereka itulah pemimpin atau khalifah dalam makna luas maupun sempit.

Dalam konteks proses kehidupan, manusia dewasa wajib membimbing generasi penerusnya agar mampu menjadi manusia merdeka. Proses itu dinamakan pendidikan. Berbagai gagasan dan upaya pendidikan telah diuji coba serta diterapkan. Pun demikian halnya di Indonesia. Sejak munculnya bangsa Nusantara, era penjajahan sampai 72 tahun Indonesia Merdeka berbagai konsep pendidikan dirumuskan dan diterapkan selaras dengan kondisi serta tuntutan zaman. Namun, jargon ganti menteri ganti kebijakan seolah telah membentuk apatisme, khususnya di kalangan pendidikan. Pemeduli pendidikan tak boleh terjebak pada fenomena tersebut. Konsep dan penerapan pendidikan berkualitas yang inovatif dan berkarakter tetap perlu diwujudkan secara nyata seiring dinamika bangsa.

Sekolah Nasima bertumbuhkembang mengusung konsep dan penerapan pendidikan karakter berbasis nasionalis agamais. Bagaimana jabarannya? Apakah bisa menjadi alternatif pendidikan karakter di satuan pendidikan-satuan pendidikan Nahdlatul Ulama?

Sekolah Nasima Berupaya Mendidik “Lokomotif-lokomotif” Indonesia Raya
Yayasan Pendidikan Islam Nasima disingkat YPI Nasima berdiri pada tanggal 7 Januari 1994 atau 24 Rajab 1414 H. YPI Nasima adalah penyelenggara lembaga-lembaga pendidikan bernama Nasima yang terdiri dari dari jenjang pendidikan anak usia dini (Daycare, Toddler, KB, dan TK Nasima), SD Nasima, SMP Nasima, dan SMA Nasima. Guna memudahkan penyebutan, maka semua lembaga pendidikan yang dikelola oleh YPI Nasima disebut sebagai Sekolah Nasima. Nasima merupakan akronim dari nasionalisme agama. Sikap dan perilaku cinta tanah air serta akidah akhlak agama yang dianut merupakan kesatuan karakter insan Indonesia. Ibarat bendera Sang Merah Putih. Merah sebagai simbol nasionalisme dan putih sebagai simbol agama menyatu tak terpisahkan untuk menjadikan Sang Merah Putih itu sangat terhormat dan mampu menyatukan bangsa yang bhineka ini.

Kisah perjalanan Sekolah Nasima dimulai dari kegalauan Tri Setyoadi, S.H, C.N yang kini biasa dipanggil H. Yusuf Nafi’. Kegalauan itu muncul berdasar pengalaman dan pengamatannya sejak masih mahasiswa. Pria yang pada akhirnya menjadi pendiri Sekolah Nasima ini memang dikenal sebagai mahasiswa yang sangat kritis dan beridealisme tinggi.

Perenungannya merajut perjalanan panjang bangsa Nusantara yang bhinneka pada era kerajaan-kerajaan dihiasi akulturasi aneka budaya manca dengan lokal dan penyebaran agama yang damai oleh Walisanga. Pendalaman tentang pemikiran dan pergerakan nasional para pendiri bangsa yang berproses sampai berikrar Sumpah Pemuda tak luput didalami oleh H. Yusuf Nafi’ muda. Termasuk nilai-nilai Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyyah yang semakin menguat ketika bertemu dengan tokoh-tokoh NU pada saat muktamar Cipasung.

Visi misi bangsa negara Indonesia Raya sangat menginspirasinya. Pancasila dan UUD 1945 menjadi puncak penegasan visi misi Indonesia sebagai negara merdeka. Alinea keempat Pembukaan UUD 1945, khususnya “… mencerdaskan kehidupan bangsa ….” menjadi motivasi baginya untuk turut serta memperjuangkannya sebagai salah satu anak bangsa.

H Yusuf Nafi’ merasa prihatin dan galau atas sistem pendidikan yang berlaku di era 1970-1990an. Fokus pendidikan cenderung mengasah kognisi saja melalui metode doktrinasi dan berpusat pada guru. Kebijakan pendidikan juga sentralistik. Anak didik hanya difungsikan sebagai obyek. Potensi-potensi anak tidak mampu berkembang optimal sebagai akibat fokus pendidikan dan metode yang kurang memanusiakan itu. Generasi bangsa akan menjadi generasi yang kerdil dalam hal daya pikir, wawasan, kreativitas, dan perilakunya. Dengan kata lain generasi bangsa tak mampu menjadi manusia merdeka. Menurut H. Yusuf Nafi’, generasi “kerdil” itu akan sulit bersanding dan bersaing dengan bangsa lain di era global yang telah digambarkannya akan terjadi mulai awal abad ke-21.

Sistem indoktriner penguasa politik tanpa mengembangkan sisi-sisi kemanusiaan hakiki yang berjalan di dunia pendidikan era itu telah mengusik idealismenya. Lewat proses yang mendalam, kristalisasi idealismenya itu ia sebut dengan “nasima”, akronim dari nasionalisme agama. Aneka literatur dan diskusi-diskusi dengan banyak tokoh dari berbagai latar belakang semakin memperkokoh tekadnya untuk menerapkan nilai-nilai Nasima dalam sebuah lembaga pendidikan pada suatu saat nanti.

Peserta didik harus diberi kemerdekaan untuk mengembangkan segala potensinya sesuai zaman mereka nanti tanpa meninggalkan karakter inti sebagai bangsa Indonesia sekaligus insan beragama sesuai agama yang dianutnya. Pemikiran ini sejalan dengan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan itu harus berasaskan kemerdekaan, kebebasan, keseimbangan, kesesuaian dengan tuntutan zaman, berkepribadian Indonesia, dan kesesuaian dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Tuhan.

Bangsa ini membutuhkan generasi yang berlabel manusia Indonesia seutuhnya. Multiple intelegency atau kecerdasan jamak harusnya ditumbuhkembangkan pada generasi Indonesia masa depan. Prinsipnya, generasi bangsa Indonesia harus memiliki nasionalisme dan agama yang kuat, serta berilmu dan berakhlak al karimah. Guna mewujudkan idealisme tersebut, dia bercita untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan. Sebagai seorang wirausahawan, mendirikan sebuah lembaga pendidikan adalah amal jariyah dan sumbangsih bagi bangsa.

Di daerah Puspanjolo, Kelurahan Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, benih-benih lembaga pendidikan yang dia cita-citakan akhirnya mulai tertanam dan subur bertumbuh. Pertemuannya dengan beberapa tokoh lokal berbuah dengan berdirinya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) “Darrunnajah” pada tahun 1991. TPA itulah yang menjadi bulir benih Sekolah Nasima. Mereka ingin membekali anak-anak usia dini dengan pendidikan agama melalui belajar baca tulis Alquran, hafalan doa, ibadah, serta teladan-teladan mulia melalui metode yang sederhana dan menarik.

Seperti sudah “digariskan” oleh Yang Maha Kuasa, akhirnya, pada tanggal 7 Januari 1994, H. Yusuf Nafi’, bersama dan tiga anaknya mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima. Melalui YPI Nasima mereka ingin mewujudkan insan Indonesia yang merdeka secara hakiki, yaitu insan Indonesia yang tetap berkarakter Indonesia dan mandiri karena memiliki ilmu dan akhlak mulia. Mereka merumuskannya dalam visi “Membimbing insan Indonesia berilmu dan berakhlak al karimah.” Misi YPI Nasima adalah 1) menyelenggarakan pendidikan berkualitas, 2) menciptakan “lokomotif-lokomotif” (pemimpin-pemimpin) baru menuju Indonesia Raya, dan 3) mewujudkan kesejahteraan bersama.

Guna memperkuat gagasan maupun penerapan dalam proses pendidikan Nasima beberapa tokoh turut memperkuat kepengurusan yayasan. Pada dasawarsa pertama sebagai masa peletakan dasar visi misi Nasima, H. Yusuf Nafi’ memimpin langsung sebagai ketua yayasan. Pada dasawarsa kedua saat pemantapan visi misi, YPI Nasima diketuai K.H. Hanief Ismail, Lc. Pada dasawarsa ketiga saat ini, masa kemandirian yayasan, H. Agus Sofwan Hadi, S.H., tokoh yang sekarang menjadi Ketua LP Ma’arif NU Wilayah Jawa Tengah diamanahi menjadi Ketua Umum YPI Nasima.

Pendidikan Karakter Nasonalis Agamais
Sejak awal, TK Nasima (TK A dan TK B) serta SD Nasima (kelas 1) sudah menerapkan suatu pembiasaan dalam kegiatan keseharian atau tradisi sekolah, seperti bersalaman dan pengucapan salam saat penyambutan peserta didik di depan sekolah maupun dalam setiap perjumpaan antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, serta guru dengan guru. Selain itu peserta didik juga melakukan kegiatan berbaris dan berikrar di depan kelas. Setelah itu hormat bendera, menyanyi Indonesia Raya, Mars dan Hymne Nasima, mujahadah Asmaul Husna, membaca surat-surat pendek dalam Alquran (Juzamma), doa sebelum pembelajaran, serta beberapa menit membaca buku atau curah pendapat dengan wali kelas. Pada saat istirahat, peserta didik dibiasakan untuk membaca doa makan dan doa ke toilet, mencuci tangan, berbagi bekal makanan, dan makan bersama. Ketika menjelang pulang sekolah, peserta didik dibiasakan merapikan dan membersihkan kelas, hormat bendera, menyanyi lagu wajib nasional atau daerah Nusantara, kemudian berdoa sebelum pulang dan bersalaman dengan guru atau wali kelas.

Pada tahun pelajaran 1997/1998, ketika sistem full day school mulai diterapkan untuk kelas III SD dan jenjang selanjutnya, kegiatan rutin atau tradisi harian bertambah dengan salat Zuhur berjamaah dan makan siang bersama pada jam istirahat kedua, serta salat Asar berjamaah sebelum pulang. Sekolah menyempurnakan pembiasaan itu dengan kegiatan dan alokasi waktu yang diatur lebih rinci yang selanjutnya disebut Rutinitas Harian Nasima (RHN). RHN dilaksanakan pada pagi, siang, dan sore.

Pelaksanaan RHN dan pendampingan peserta didik semakin mantap setelah wali kelas berkantor di kelas yang diampunya. Secara prinsip wali kelas berada di kelasnya dari awal sampai akhir hari belajar. Mereka memiliki meja khusus di dalam kelas sebagai tempat kerjanya. Mereka bertugas mendampingi aktivitas dan perilaku peserta didiknya, termasuk ketika peserta didiknya belajar dengan guru lain. Mereka meninggalkan kelasnya bila mengajar di kelas lain atau ada tugas tertentu di luar kelas.

Selain RHN, Sekolah Nasima juga menyelenggarakan program insidental yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Ragam kegiatannya dibuat tematik, kreatif, efisien, efektif, dan bermakna bagi peserta didik, termasuk pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua. Secara fisik, program yang diselenggarakan menampilkan kekhasan Sekolah Nasima, sesuatu yang berbeda atau lebih baik dari lembaga lain. Lebih utama lagi, secara prinsip kegiatan-kegiatan di dalam program tersebut harus efektif menanamkan nilai moral dari setiap peristiwa yang diperingati serta memerkuat nilai-nilai ke-Nasima-an secara integratif. Program insidental tersebut berupa kegiatan-kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN), memakai pakaian adat Nusantara dan gelar budaya Bhinneka Tunggal Ika setiap HUT RI, Hari Surjan Blankon dan Kebaya (setiap tanggal 17, kecuali bulan Agustus), Hari Merah Putih (setiap tanggal 7/HUT Nasima), serta beberapa kegiatan lainnya.

Lebih rinci lagi Sekolah Nasima melalui kerja kolaboratif menyusun Pedoman Perilaku yang memandu peserta didik, pendidik, dan orang tua dalam melakukan semua kegiatan di sekolah. Pedoman perilaku tersebut disusun dalam sebuah buku yang mudah dipahami semua pihak. Buku disusun dalam sistematika yang runtut dan rinci. Paling sedikit ada tiga bagian atau bab, yaitu sekitar prinsip-prinsip dasar Nasima, pedoman perilaku selama di sekolah, dan konsekuensi atau pertanggungjawaban perilaku.

Rutinitas Harian Nasima, Program Insidental Nasima, Pedoman Perilaku yang terlaksana tersebut merupakan sebentuk tradisi dalam “Budaya Sekolah Nasima”. Menganut teori kebudayaan Koentjaraningrat (1990), Budaya Sekolah Nasima adalah kesatuan dari sistem nilai, tindakan, dan hasil karya (artefak) yang mendarah daging dan membiasa di Sekolah Nasima. Sejalan pula dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan merupakan proses budaya. Lembaga pendidikan bak sebuah taman yang indah tempat bertumbuhkembangnya nilai-nilai, tradisi, dan karya-karya nan luhur.
Sistem nilai yang ada adalah konfigurasi gagasan, keyakinan, dan norma baku serta dinamis yang dimiliki bersama oleh segenap warga Sekolah Nasima. Sistem nilai tersebut diterima, dipahami, diterapkan, dan mendarah daging dalam jiwa setiap warga Sekolah Nasima sebagai perilaku alami. Wujud jasmaniah dari sistem nilai dan perilaku tercermin dari tampilan lingkungan fisik sekolah, tampilan pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik, serta karya-karya yang dihasilkan seperti buku, modul, karya seni, dan karya kreatif lainnya. Salah satu penampilan berkarakter Nasima adalah dominasi warna merah dan putih pada setiap unsur fisik Nasima.

Budaya sekolah Nasima berpedoman pada visi dan misi sekolah Nasima yang dituangkan dalam nilai-nilai inti karakter Nasima. Nilai-nilai inti itu adalah Nasionalis (budaya cinta tanah air; NKRI, Merah Putih, Pancasila, UUD 1945, Indonesia Raya, dan Bhinneka Tunggal Ika), Agamis (budaya religius, khususnya Islam rahmatan lil alamin), Santun komunikatif (budaya ramah, santun, komunikatif, dan demokratis), Integritas kuat (budaya jujur dan bijaksana), Makmur berkelimpahan (budaya wirausaha dan berbagi), Aktif bekerjasama (budaya aktif, kerja keras, dan gotong royong), Yakin terbaik (budaya menjaga mutu), Empati (budaya peduli pada diri sendiri, sesama, dan alam semesta), Siap bertanggungjawab (budaya amanah, disiplin, dan bertanggung jawab).

Kemudian, mulai tahun 2014, termotivasi oleh usia lembaga yang mencapai 20 tahun digagaslah untuk memadukan pemikiran pendiri dengan terjemahan, pemikiran, dan langkah masing-masing warga sekolah dalam sebentuk “cetak biru”. Selama dua puluh tahunan Sekolah Nasima berdinamika, setiap pendidiknya menyusun program dan melaksanakannya hanya dipandu oleh kesamaan visi dan naluri untuk membimbing insan Indonesia yang berilmu dan berakhlak al karimah. Semua saling mendukung ketika suatu langkah berjalan “sesuai” visi misi. Sebaliknya, ketika ada langkah rekan yang dinilai tidak sesuai visi misi, maka semua peduli untuk mengevaluasi.

Budaya Sekolah Nasima berupa nilai-nilai, tradisi, dan karya-karya luhur yang selama ini terjaga di memori serta komunikasi lisan warga Sekolah Nasima akhirnya ditulis sistematis dalam sebuah “cetak biru” pendidikan Sekolah Nasima. Empat kompetensi yang harus dikuasai peseta didik agar menjadi insan merdeka dirumuskan sebagai penyempurna sistem nilai Nasima. Empat kompetensi itu adalah 1) kompetensi ke-Nasima-an, 2) kompetensi kebahasaan, 3) kompetensi eksakta, dan 4) kompetensi teknologi terapan.

Kompetensi ke-Nasima-an merupakan kemampuan komprehensif peserta didik dalam memahami, menghayati, dan menerapkan nilai, pengetahuan, serta perilaku ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an yang rahmatanlilalaamin. Kompetensi kebahasaan memotivasi peserta didik untuk berbudaya baca tinggi, serta terampil dan aktif berkomunikasi lisan dan tertulis menggunakan berbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Inggris, Arab, Mandarin) guna bersaing serta bersanding dalam kehidupan masyarakat global. Kompetensi eksakta adalah kemampuan komprehensif peserta didik untuk membudayakan sikap serta perilaku kritis, logis, dan ilmiah, serta menguasai konsep dan praktik sain dan matematika. Sedangkan kompetensi teknologi terapan memberi standar pada peserta didik untuk menguasai keterampilan-keterampilan dasar kehidupan, terutama teknologi informasi. Keterampilan dasar kehidupan itu antara lain mengelola diri, hidup sehat, mengelola lingkungan hidup, teknik dasar, tanggap bencana, teknologi informasi, serta kepemimpinan dan wirausaha.

Visi, misi, nilai-nilai karakter, serta empat kompetensi tersebut sebagai sistem nilai dalam konteks budaya Sekolah Nasima diterapkan dalam suatu sistem aktivitas dan aneka wujud fisik. Sistem aktivitas sebagamana telah disampaikan diwujudkankan dalam tradisi-tradisi pembiasaan dan penguatan karakter melalui rutinitas harian Nasima, kegiatan insidental, serta integrasi dalam pembelajaran dan “penjelajahan” Nusantara.

Integrasi nilai-nilai Nasima dalam pembelajaran antara lain dilakukan dengan menginternalisasikan pendidikan karakter “NASIMA YES” dalam proses pembelajaran. Secara simultan berkesinambungan, karakter yang akan ditanamkan secara eksplisit dituliskan pada perangkat pembelajaran, mulai dari silabus, RPP, serta lembar-lembar evaluasi seperti lembar kerja dan lembar pengamatan perilaku.

Sedangkan kegiatan “penjelajahan” Nusantara dilakukan melalui penciptaan ruang-ruang kelas yang mendisplay keunikan potensi daerah-daerah di Nusantara (Sekolah Nasima = miniatur Indonesia), kegiatan pengenalan dan eksplorasi lingkungan dan profesi, serta kegiatan penjelajahan sesunggunya dan live in di berbagai wilayah Indonesia secara bertahap. Kegiatan “penjelajahan” Nusantara tersebut dilakukan secara bertingkat sesuai taraf pertumbuhan dan perkembangan atau jenjang pendidikan di Sekolah Nasima.
Keunikan, komitmen, dan konsistensi Sekolah Nasima dalam pendidikan karakter nasionalis agamais cukup menarik perhatian pemerintah. Tahun 2016 Kemdikbud RI menetapkan SD Nasima dan SMP Nasima sebagai salah satu Sekolah Piloting Program Penguatan Pendidikan Karakter. Seorang pendidiknya diundang dan ditugasi sebagai salah seorang dalam tim Pusat Analisis Strategi dan Kebijakan Kemdikbud RI untuk Program Penguatan Pendidikan Karakter.

Gotong Royong Mewujudkan Visi Misi
Sekolah Nasima tak sendirian dalam perjuangan mewujudkan visi misi. Sinergi berbagai pihak terkait dijalin erat. Tri pusat pendidikan atau saka guru pendidikan istilahnya. Pendidikan berkualitas merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sekolah berupaya menjalin koordinasi, konsultasi, dan kerja sama dalam beberapa bidang antar ketiga pihak. Ketiganya wajib menjalankan fungsinya secara optimal dalam jalinan gotong royong. Manfaat pun akan saling didapatkan dari proses gotong royong itu. Lembaga penyelenggara, sekolah, dan guru bisa beramal jariyah melalui penidikan berkualitas dan ilmu yang bermanfaat. Keluarga atau orang tua memperoleh anak yang berilmu dan berakhlak al karimah. Masyarakat akan memperoleh generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berkarakter mulia.

Dalam upayanya, Sekolah Nasima menjalin sinergi dengan beberapa pihak dalam penyelenggaraan maupun penjaminan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Lembaga-lembaga yang digandeng Nasima antara lain Global Group untuk sertifikasi ISO 9001:2008, UMMI Foundation untuk pembelajaran Alquran, Surya Institute untuk pembelajaran IPA dan Matematika, LPMP, Unnes, dan UPGRIS untuk peningkatan SDM guru, lembaga ACCES dan Kampung Inggris Pare untuk budaya berbahasa Inggris, AISEC dan deJavato untuk guru asing dan pertukaran pelajar ke luar negeri, Computertots untuk pembelajaran komputer anak usia dini, dan Quiper untuk pembelajaran daring. Selain itu juga menjalin kerja sama dengan pondok pesantren untuk pesantren Ramadan, Akademi Militer untuk pendidikan bela negara, BNN, BNPT/FKPT, BPBD, dan sebagainya.

Guna mengelola segala sumber daya dan penyelenggaraan pendidikan berkualitas yang komprehensif tersebut diperlukan kepemimpinan yang kuat, visioner, dan inovatif, dan manajemen yang solid. SDM yang kompeten, berintegritas, berkomitmen, profesional, dan kreatif menjadi pilarnya. Dukungan finansial dan sarana prasarana menjadi pelengkapnya.

Alternatif Model untuk Ma’arif NU?
Beberapa satuan pendidikan, utamanya sekolah dasar berbasis NU menjadikan Sekolah Nasima (SD) sebagai model. SD-SD “NU” baru di Blora, Grobogan, Jepara, Pati, dan Purwokerto bersilaturahim secara berkesinambungan ke SD Nasima untuk perintisan sekolah mereka. Selain itu mereka juga mengirim guru-gurunya untuk magang 1-2 bulan di SD Nasima. Bahkan tim SDM Nasima diminta untuk turut menyeleksi dan memberi pembekalan serta monitoring di sekolah-sekolah tersebut.

Meski baru beberapa sekolah yang menjadikan Nasima sebagai alternatif model secara langsung, setidaknya pendidikan karakter nasionalis agamais mampu dipahami dan menginspirasi untuk dikembangkan. Sekolah Nasima terbuka bagi siapa saja untuk berbagi gagasan. Semakin luas nilai-nilai maupun sistem pendidikan di Nasima dikenal, diadopsi maupun dikembangkan, maka pendidikan karakter nasionalis agamais semakin maslahat bagi pendidikan anak bangsa.

Epilog
Apa yang dilakukan Sekolah Nasima sebagaimana telah tergambarkan barulah langkah kecil dalam sebuah kerangka tujuan pendidikan nasional yang sangat kompleks. Segenap warga Sekolah Nasima hanya bertekad untuk komitmen dan konsisten mengabdikan diri pada keyakinan dan cita-cita mewujudkan manusia merdeka. Manusia merdeka, insan pemimpin, “lokomotif-lokomotif” baru itu adalah insan Indonesia yang berilmu dan berakhlak al karimah.

Oleh: Indarti Suhadisiwi)*
)* Penulis adalah manajer kependidikan Sekolah Nasima Semarang. Materi ini disajikan dalam Focus Group Discussion (FGD) LP Ma’arif NU Pusat, Kamis, 1 Februari 2018
Tag:

Related Images

  • Pendidikan Nasionalis-Agamais Sekolah Nasima, Alternatif Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan Nahdlatul Ulama

Post Rating

Comments

ogyoutube
Saturday, February 3, 2018 10:22 AM
This is great article on School Education.
raina
# raina
Monday, April 9, 2018 11:31 PM
This is also a very good post, Thanks for this great post.
gapps app apk

Post Comment

Name (required)

Email (required)

Website

CAPTCHA image
Enter the code shown above:

Galeri Foto
Foto Bersama Panitia
dddd
Gale-25
SANY3751
There are gold and diamonds that have to caiso replica watches be earned, and it is rolex replica uk still very interesting to say that the replica watch table that embodies the taste of men has rolex replica watches either gold or diamonds.