Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Warta & Artikel

Ketua Umum PBNU: Negara Madinah Perlakukan Sama Bagi Penduduk yang Muslim dan non-Muslim

Ketua Umum PBNU: Negara Madinah Perlakukan Sama Bagi Penduduk yang Muslim dan non-Muslim

Manado, Ma’arif-NU Online - Negara Madinah itu penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab, semua diperlakukan sama. Semua penduduk Madinah telah menandatangani kesepakatan bersama untuk hidup damai. Terdapat tanggung jawab bersama kalau ada serangan dari luar. Mereka yang berkhianat juga harus diusir.

Hal itu dijelaskan oleh Ketua Umum PBNU Prof.Dr.KH. Said Aqil Siraj,MA pada saat memberikan sambutan dalam acara pra-Munas dan Konbes dengan tema NU dan Kebinekaan di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (11/11/2017).

Nabi Muhammad ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah hidup dalam komunitas masyarakat yang plural, ada penganut Yahudi, ada pula suku-suku lokal, kelompok Ansor dan juga Muhajirin. Dengan situasi seperti itu, maka yang dibangun adalah negara yang berdasarkan kesepakatan bersama untuk mencapai kemajuan dan kebersamaan, tidak didasarkan pada agama atau etnis. Karena itulah, negeri tersebut dikatakan sebagai Negara Madinah, dari kata tamaddun yang artinya masyarakat yang berperadaban.

“Asalkan satu cita-cita dan satu garis perjuangan, sesungguhnya mereka adalah satu umat. Jadi Nabi Muhammad, modern banget,” ujar Kiai Said ketika berbicara di hadapan perwakilan NU se-Wilayah Indonesia Timur.

Menurut Kiai Said yang pernah tinggal di Arab Saudi selama tiga belas tahun untuk belajar dari sarjana sampai dengan doktor ini, memberikan sejumlah contoh tindakan Rasululah yang berlaku adil pada semua kelompok. Pertama, Suatu ketika ada sahabat yang bertengkar dengan Yahudi, kemudian mereka berkelahi sampai si Yahudi meninggal. Nabi marah besar dengan mengatakan, barangsiapa membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan selamat.

Keadilan juga diperlakukan kepada sesama umat Islam, yaitu ketika ada perempuan yang tertangkap mencuri. Ada usulan agar pencuri tersebut tidak dihukum karena berasal dari keluarga terpandang. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan, seandainya Fatimah, anak satu-satunya, yang mencuri, beliau akan menghukumnya sendiri.

“Kalau kita bandingkan umat Islam dulu dan sekarang, kita sekarang akan malu,” tuturnya mengomentari tindakan tegas Nabi dalam menghukum pencuri tersebut.

“Tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum. Tidak boleh ada permusuhan karena alasan beda agama, beda suku, beda budaya, apalagi beda pilihan gubernur,” tandasnya.

Kiai Said menegaskan bahwa, yang dijalankan oleh Rasulullah tersebut merupakan prinsip muwathonah, citizenship atau kewarganegaraan, bukan kewargaagamaan, atau kesukuan. “Islam seperti inilah yang dibawa Walisongo, yang mengislamkan seluruh Nusantara,” tambahnya.

Contohnya, sebagai pemimpin dari seluruh komunitas yang sangat beragam, lanjut Kiai Said, Rasulullah juga sangat memperhatikan kepentingan dari pemeluk agama Nasrani. Suatu ketika ada gosip dari Yahudi bahwa Maryam berzina sehingga melahirkan seorang anak. Ia sangat bersedih dan bagaimana menjelaskan peristiwa tersebut, sampai akhirnya Allah menurunkan surat Maryam yang menegaskan bahwa Maryam atau disebut Maria dalam agama Kristiani merupakan perempuan suci yang bersih dari perilaku tidak terpuji.

Begitu pula, tambahnya, ketika terjadi perang antara Kristiani dan pengikut Zoroaster, Rasulullah mendoakan agar umat Kristiani dimenangkan. Romawi pertama kalah dalam perang tersebut, tapi kemudian kurang dari sepuluh tahun, menang dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut, umat Islam diminta untuk menyambut dengan gembira. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Ar-Rum.

Demikian halnya, Kiai Said yang merupakan alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini , mengisahkan teladan yang diberikan oleh Sayyidina Umar saat mengunjungi Palestina. Pada kesempatan tersebut, Umar memasuki gereja untuk melihat-lihat karena di Makkah dan Madinah tidak ada gereja. Lalu terdengar adzan saat ia masih dalam gereja. Ia tidak mau shalat dalam gereja, melainkan di luar karena takut, jika shalat di gereja, suatu saat geraja tersebut direbut dengan alasan di situ bekas shalatnya Umar.

Kiai Said mengingatkan bahwa cara pandang orang Arab dalam hubungan antara agama dan negara sangat berbeda dengan bangsa Indonesia. Di sana, para ulama bukanlah tokoh nasionalis, sedangkan tokoh nasionalis bukanlah ulama. Situasi ini menyebabkan terjadinya benturan dan pertumpahan darah.

Sebaliknya di Indonesia, Kiai Hasyim Asy’ari mampu menyatukan agama dan nasionalisme dengan ungkapannya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Apa yang disampaikan oleh Kiai Hasyim tersebut merupakan bentuk refleksi atas kondisi di Nusantara yang sangat beragam. (W-Nuo)


Tag:

Related Images

  • Ketua Umum PBNU: Negara Madinah Perlakukan Sama Bagi Penduduk yang Muslim dan non-Muslim

Post Rating

Comments

There are currently no comments, be the first to post one!

Post Comment

Only registered users may post comments.