kamagra kopen kamagra online kamagra 100 viagra tablets australia levitra online australia cialis daily australia levitra australia kamagra 100mg cialis bijsluiter cialis kopen viagra kopen viagra online
viagra tablets australia levitra online australia viagra générique viagra pour femme cialis générique cialis en ligne levitra générique levitra prix kamagra 100 kamagra 100mg kamagra kopen kamagra online cialis bijsluiter cialis kopen viagra kopen viagra online cialis daily australia levitra australia
Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Warta & Artikel

Mengenang Tokoh Pendidikan NU

Mengenang Tokoh Pendidikan NU
KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, terlebih yang terkait dengan umat Islam di Indonesia. Menjelang kemerdekaan, perannya sebagai anggota BPUPKI sangat penting bagi perumusan NKRI, UUD 1945 dan Pancasila.Ia juga pendiri Partai Nahdlatul Ulama (NU) dan pernah menjabat sebagai Menteri Agama selama tiga periode di awal masa kemerdekaan. A. Wahid Hasyim yang lahir pada 1 Juni 1914 merupakan putra kelima dari pasangan KH. M. Hasyim Asyari dengan Ny. Nafiqah binti K. Ilyas.Ayahnya adalah seorang ulama besar dan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Sejak kecil, Wahid Hasyim belajar di pesantren ayahnya di Tebuireng dan berbagai pesantren lainnya.Saat berusia 18 tahun, pendidikannya dilanjutkan ke Makkah. Hobi membacanya yang sangat kuat membuatnya sangat mencintai ilmu dan giat belajar.Wawasannya diperluas juga dengan rajin membaca koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa asing. Ia berkembang menjadi pribadi yang cerdas dan otodidak yang hebat dalam berbagai wawasan pengetahuan. Kiprah KH. Abdul Wahid Hasyim di LP Ma’arif NU dimulai dari kepengurusan NU Cabang Jombang.Tidak lama setelah itu, ia dinobatkan menjai Ketua Pengurus Pusat Ma’arif NU dan berkantor di Surabaya. Di umurnya yang ke-24 tahun,Abdul Wahid Hasyim mulai aktif di organisasi NU dan tahun berikutnya ia diangkat menjadi anggota Pengurus Besar NU. Di tahun itu juga, iadipilih menjadi Ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi sejumlah organisasi sosial-politik Islam dan wadah persatuan umat Islam di Indonesia. Ia kemudian terpilih sebagai Ketua Dewan dalam Kongres Muslimin Indonesia, yang merupakan kelanjutan MIAI. Organisasi ini dibubarkan oleh Jepang pada 1943dan tidak lama kemudian berdiri wadah baru bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Pada saat PemerintahPendudukan Jepang mendirikan Shumubu (Badan Urusan Agama Islam) yang diketuai oleh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Kahar Muzakir dan KH Abdul Wahid Hasyim masing-masing ditunjuk sebagai Wakil Ketua. Bahkan, karena ayahnya yang tidak bisa meninggalkan Jawa Timur, KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk sebagai pelaksana Ketua. Badan inilah yang setelah kemerdekaan menjadi Departemen Agama. Sebelum meninggalkan Indonesia, Pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk sebagai salah satu anggotanya. Sidang pertama badan ini membentuk panitia kecil yang terdiri atas 9 orang. Di tim inilah beliau menjadi anggota bersama-sama Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, Haji Agus Salim, Achmad Soebardjo, dan Muhammad Yamin. Panitia kecil ini berhasil mencapai suatu modus vivendi antara dua kelompok yang berbeda pendapat, yaitu pihak nasionalis dan Islam mengenai dasar negara. Panitia Sembilan ini menyetujui rancangan Preambul UUD RI yang mereka tandatangani pada 22 Juni 1945, yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta. Selama 3 (tiga) periode menjabat Menteri Agama, (Kabinet Hatta: 20 Desember 1949 - 6 September 1950, Kabinet Natsir: 6 September 1950 - 27 April 1951, dan Kabinet Sukiman: 27 April 1951 - 3 April 1952),banyak hal penting beliau lakukan sebagai Menteri Agama, antara lain: mewajibkan Pendidikan Agama di sekolah umum; mendirikan Sekolah Guru Agama, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri pada 15 Agustus 1951 yang kemudian berkembang menjadi 14 Institut Agama Islam negeri (IAIN) di 14 propinsi; dan lain-lain. Di lingkungan NU, Wahid Hasyim merupakan tokoh penting yang memadukan pendidikan tradisional pesantren dan pendidikan “modern” formal. Ketika duduk sebagai Ketua Muda II Dewan Partai Masyumi, yang merupakan satu-satunya partai politik Islam, ia kerap mengritik kepemimpinan PB Masyumi yang dianggap terlalu lemah. Akhirnya, dalam kongres NU di Palembang pada April 1952, dimana ia bertindak sebagai Pemimpin Kongres, NU memutuskan untuk lepas dari Masyumi dan mengembangkan diri menjadi partai politik, setelah sebelumnya menjadi anggota istimewa di Partai Masyumi. Wahid Hasyim meninggal dunia pada 15 April 1953 dalam usia muda, belum genap 40 tahun. Beliau meninggal dalam sebuah kecelakaan di Cimahi dan dimakamkan di pemakaman keluarga besarnya di Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur []
Tag:

Related Images

  • Mengenang Tokoh Pendidikan NU

Post Rating

Comments

There are currently no comments, be the first to post one!

Post Comment

Only registered users may post comments.
There are gold and diamonds that have to caiso replica watches be earned, and it is rolex replica uk still very interesting to say that the replica watch table that embodies the taste of men has rolex replica watches either gold or diamonds.